_rabindrasahara
_rabindrasahara
dan melupakanmu adalah hangatnya detik waktu. mengguyurkan kesangsian kesuraman yang pernah menyandang nama kebahagiaan. itu pernah kita ciptakan. jauh sebelum kukenali keras hati bernama obsesi duniawi.
_Sha. kau tak pernah lagi terlihat di wajah jendela. tempat kau menuntaskan
airmatamu yang kerap tertunda.
kau hanya memandangku. lalu menghilang._
_baiklah. pintu ini memang tak bisa kulalui. kugadaikan semua. diamlah
di samping jendela itu. kau akan tahu kita lahir dari sesuatu yang semestinya
kita mulai hari ini.
usah kau pergi, Des. lahirlah di mataku. karena mata ini adalah
kehidupan yang kau angankan._
_rs
debar firasat yang mengguncang jemari. menghimpit setiap sela udara yang mengerami setiap masalah hingga tercipta gelombang rasa dalam terali harmoni. kita tak akan bisa menentukan peran kita hingga detik menjadi tahunan sesal yang memeras selubung duka di selaksa tautan ilusi manusiawi.
_rabindrasahara
karena rahasia itu bukan lagi jemari tempat kesaksianmu terkepal
_rabindrasahara
hanya sejauh ini kita mampu berlari
mendekap anganangan untuk kembali memperdaya bayangan sendiri
ketika jeruji malam menumpahkan kesangsian
perjalanan panjang mendadaskan bercak kesunyatan di gerai tumitmu
maka kesempurnaan adalah kerak kecil yang
menodai timpangnya usia kita
dengan apa kita hendak berlari?
sementara selarik hujan tak kuasa lagi menampung jejakjejak kita
terlampau lebam karena daki menghuni perkampungan langkah
ingatkah setiap perjudian kehendak kita?
selalu melibatkan kehangatan
dunia harmoni yang mengigilkan sumpal mulut ndilalah
ya, kita tak pernah mengerti jatidiri
residu mimpi ini mensatiri kesejatian
kita selalu merasa berhak atas hidup sesama
tak sesulit luka yang menjelaga memang
apalagi ketika beranda hati menelurkan prasangka
tapi, bukan dengan itu kita menerima kebodohan kita
hanya dengan kejernihan akal. ya.
dengan itu kita terima kepandiran
meski luka hati terlalu menjajah
bukankah kita ini hanya wadah?
_rabindrasahara
entah bagaimana rasanya. mencecar kehidupan dengan pertanyaanpertanyaan sumbar. namun, gelisah itu ada. takut itu wujud. dan gentar itu menebar. dendam harihari yang lama tak lagi pernah kusantuni. berjibaku dengan segenap persistensi diri.
_rabindrasahara
letupkan api di tanganmu.
_rabindrasahara
A : Alirkanlah energi muda kita untuk sesuatu yang lebih berguna bagi diri kita, orang lain maupun bangsa. Ketimbang menjadi pengecut yang mengumbar kekerasan. Bangsa ini sudah terlalu letih menerima sanjungan-sanjungan negatif tentang pertunjukan emosi yang dangkal. Bangsa ini sudah terlalu muak ditempati manusia-manusia yang memasrahkan hidupnya pada bulir-bulir narkotika. Bangsa ini sudah terlalu jijik menghidupi manusia yang takluk di bibir botol minuman keras. Bangsa ini butuh tangan kita untuk tetap bernyawa. Tangan yang selalu mengepal kendati jari-jarinya telah musnah.
B : Bentuk dan kembangkanlah budaya jujur, transparan, dan adil dalam diri kita. Kehidupan bangsa ini di masa depan adalah cerminan budaya kita saat ini. Hentikanlah menuding hidung orang lain sementara kita tak pernah berani menuding hidung kita sendiri di saat kita berbuat suatu kesalahan. Ingat, bangsa ini selalu membutuhkan uluran tangan kita. Sampai kapanpun.
C : Cerita sejarah kelam tentang pertikaian yang sia-sia itu sudah saatnya kita bungkus rapi dan jadikan cerminan sejarah yang patut kita renungkan. Belajarlah hidup membaur dalam perbedaan tanpa ada keinginan untuk saling mengusik. Perbedaan itu hanya soal cita rasa. Tetapi maknanya tetap satu. Yaitu nusantara. Ketika makna nusantara sudah terpahat rapi, cita rasa perbedaan tak lagi menjadi sebuah alasan untuk saling menghakimi. Perbedaan yang justru memperkaya dan membuat kita semakin kuat.
D : Derita itu sudah saatnya kita akhiri. Suarakan pembaharuan. Keadilan. Kejujuran. Dengan cara ksatria. Dengan jalan yang benar. Bukan pengecut yang hanya mampu berlindung di balik tindakan kebodohan berlabel anarkisme. Kepalkan tangan dan teroboslah sekat yang membatasi ruang status. Dan mengalirlah di dalamnya. Kita punya hak untuk itu. Dan jangan pernah berfikir untuk menunda.
E : Etos dan Etika bangsa kita pernah mengundang decak kagum dunia. Kita punya gotong-royong. Kita punya solidaritas. Kita punya semangat kebangsaan. Kita punya kebersamaan. Kita punya kesopanan. Dan kita punya keramahan. Tapi kemanakah semua itu sekarang? Gotong-royong kita musnah ditelan ego lokal. Solidaritas kita hancur dikepung pertikaian. Semangat kebangsaan kita terbenam dicincang perilaku modernitas tanpa batas. Kebersamaan kita amblas diinjak individualisme. Kesopanan kita remuk dihantam perasaan saling curiga. Keramahan kita terlelap dibekap nafsu untuk saling menguasai. Mari kita munculkan itu kembali dalam diri kita masing-masing. Siapakah yang akan merasa bangga sebagai bangsa yang bermartabat selain kita. Mari kita wujudkan itu.
G : Gegap gempita adalah harga bagi sebuah periode bernama pembangunan. Untuk semua. Tak ada kecuali. Kita berperan dalam pembangunan sesuai apa adanya diri kita. Pergunakanlah kesempatan kita berbuat untuk bangsa. Tidaklah elok ketika suara-suara tentang pembangunan membahana, dan kita masih terlelap dalam jurang penghambaan terhadap kebobrokan mental. Tidaklah indah ketika genderang kemajuan bergemuruh sementara kita tetap melemparkan kepercayaan pada lautan kebodohan emosional. Tidaklah luhur ketika gelimang cahaya kesejahteraan terpancar sementara kita begitu asyik menekuni kegelapan.
I : Impian kesejahteraan bukanlah sebuah ilusi. Bukan juga fiksi. Dia akan selalu hadir di setiap gerak langkah. Dan kita jualah yang semestinya menerjemahkan impian itu menjadi sesuatu yang bernafas. Menjadi sesuatu yang bernyawa. Nafas dari tekad kita untuk selalu berbuat demi bangsa. Nyawa dari semangat kita untuk selalu berbenah. Hidupkanlah impian itu dengan nafas dan nyawa dari kita. Itu tugas kita, kawan.
K : Kendati bangsa ini terlanjur masyhur karena praktik korupsi dan kolusi, tapi jangan jadikan hal itu sebagai sebuah kemustahilan untuk merubahnya. Jadilah pribadi yang jujur. Karena korupsi itu diawali dari pribadi-pribadi yang tidak jujur. Dan sekali lagi, semuanya harus dimulai dari diri kita masing-masing. Tanamkan kejujuran dan keadilan di sana. Perlakukan segala hal yang ada sesuai dengan kegunaannya. Karena di sanalah letak keadilan itu. Jangan jadikan posisi kita sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan pribadi atas nama kepentingan umum. Karena koruptor adalah penjahat paling biadab di muka bumi ini. Mereka mampu membunuh jutaan manusia tanpa mereka sadari.
M : Metafora indah selalu menghiasi laman sampul bangsa ini. Namun porak-poranda ketika menginjak perihal keadilan dan kejujuran. Bangsa ini selalu disuguhi ketidakjujuran. Dari segelintir orang-orang besar yang menakhodai laju bangsa. Kita harus merubahnya. Jadilah orang-orang besar yang selalu mengandalkan keadilan. Yang selalu membawa cermin kejujuran. Dan jangan menjadi insan yang terinjak-injak digit mata uang. Karena uang bukanlah kepuasan yang ada ujung-pangkalnya.
O : Orator ulung adalah penggugah semangat kebangsaan. Yang mampu merengkuh segala lini menjadi satu kesatuan ide yang menaungi keberagaman fisik. Bukan orator yang menciptakan masalah baru untuk memecahkan masalah. Kita membutuhkan jiwa-jiwa pemimpin yang tangguh dan pantang menyerah. Karena bangsa ini terlalu kaya oleh keberagaman. Dan selalu rentan dengan perpecahan. Sudahkah kita menemukan jiwa yang handal itu pada diri kita?
P : Pendidikan semestinya tidak melulu bertujuan bagaimana seseorang mampu menjadi insan yang cerdas dan intelek. Tetapi pendidikan juga adalah upaya untuk menciptakan generasi yang sehat secara mental dan moral. Sehingga akan mampu dan mau saling bergandengan tangan, bukan malah menciptakan sekat antara satu dan yang lainnya sehingga kemudian muncul pola persaingan yang memabukkan dengan mengatasnamakan sebuah esensi pendidikan. Kita tak hanya butuh pendidikan yang menggembar-gemborkan ilmu pengetahuan hanya sebatas pengetahuan. Kita butuh aplikasi.
Q : Quotasi yang secara nyata diterapkan oleh pemimpin sebuah bangsa tentu menjadi tolak ukur dari perilakunya. Tentu sebuah quotasi yang pragmatis. Dan jika pada kenyataannya para pembesar mengagung-agungkan pernyataan yang menjadi justifikasi atas kekuasaan tanpa batas. Maka yang muncul adalah nafsu untuk memiliki dan menguasai. Dan mempertahankan apa yang telah dikuasai dengan apapun caranya. Harus atau tidaknya sebuah kekuasaan itu dipertahankan, perilaku memimpinlah yang akan menjawabnya. Bangsa ini tidak benar-benar bodoh untuk bisa menilai itu. Kecuali jika kenyataannya banyak yang membodohi diri sendiri. Entah demi apa. Yang pasti ketidakjujuran itu tidak lahir dari hati.
R : Ranah perpolitikan selalu menuntut persaingan yang ketat. Dan tentu tidak setiap insan politik menghendaki persaingan yang sehat dan berjiwa ksatria. Jika hal itu yang muncul, maka nafsu dan emosi yang kemudian akan berbicara atas nama politik. Politik tidak pernah kejam. Insan-insan politiklah yang membuatnya serasa kejam. Jika insan-insan politik saja memperlakukan ranah politik sekejam itu, produk politik seperti apa yang akan diterima rakyat? Maka semuanya harus kembali kepada N dan O.
S : Sumpah Palapa semestinya mampu menjiwai kehidupan setiap elemen bangsa ini. Juga Sumpah Pemuda. Apakah hanya akan tersimpan rapi di saku-saku sejarah. Tentu sangat menggelitik jika sumpah-sumpah itu selalu diagung-agungkan dan dibangga-banggakan sementara kita tak mampu menjiwainya. Marilah kita bersatu, kawan. Jangan lihat warna kulit. Jangan lihat format bahasa. Jangan lihat itu. Lihatlah merah dan putih. Keberanian dan kesucian. Berani berbuat sesuatu demi kejayaan bangsa. Mensucikan perbuatan dari sesuatu yang sia-sia. Tak ada gunanya perpecahan. Perpecahan tak akan menjadi penyelesaian yang berarti.
T : Teritorial dan budaya bangsa adalah harta yang tak bisa dibayar oleh apapun. Karena itu mencerminkan jatidiri dan kearifan sebuah bangsa. Sudah menjadi kewajiban kita untuk mempertahankannya. Jangan biarkan mereka merampas itu dari kita. Tidak tercabik-cabikkah harga diri kita ketika itu terlepas? Tak perlu kita bersumpah-serapah ketika itu terlepas sementara kita begitu enggan melestarikannya.
U : Undang-undang adalah produk dari kebijaksanaan yang mengatur kita dalam berkehidupan. Sudah semestinya undang-undang itu lahir dari esensi sebuah kebijaksanaan. Yang berani mencecap kebijaksanaan itu. Pembuat undang-undang bukan berarti bebas lepas dari konsekuensi. Bukanlah sebuah kebijaksanaan ketika kita menciptakan sebuah peraturan sementara kita sendiri yang melanggarnya. Marilah kita belajar bertanggungjawab atas apa yang menjadi keputusan kita.
V : Veteran pejuang kemerdekaan adalah bapak bagi bangsa ini. Di manakah kita saat mereka terhempas karena tak ada lagi sesuatu tempat mengurai kisah? Tanpa mereka, bangsa ini tak akan pernah tercatat dalam benak sejarah. Tak akan tertoreh dalam selongsong peta. Tak akan tercantum dalam kitab kehidupan. Tidakkah lagi berharga apa yang mereka perbuat untuk bangsa hingga kesengsaraan menjadi jatidiri mereka? Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apa yang telah kita perbuat untuk bangsa. Kita butuh mereka. Selamanya selama kita masih berdiri di atas satu keyakinan bernama Indonesia. Mari kita bersama perhatikan hidup mereka. Jasa mereka tidak akan pernah terbalaskan. Setidaknya, perhatikan kehidupan mereka.
W : Wabah ganas yang menyerbu bangsa ini sudah tak lagi bisa ditolerir, kawan. Gunakan kekuatan kita untuk menghentikannya. Kekuatan hati dan jiwa. Karena siklus wabah seperti itu hanya mampu dihentikan dengan hati. Tidak ada yang mampu mendustai hati kita. Termasuk kita sendiri. Seseorang yang memiliki hati itu. Karena hati bukanlah kuasa kita. Maka, sentuh semuanya dengan hati.
Y : Yakinkan diri kita bahwa bangsa ini mampu untuk maju dan melaju. Ciptakan generasi yang intelek dan religius dengan pendidikan yang bermartabat. Kita tidak hanya butuh eksakta. Kita tidak hanya butuh sains. Kita tidak hanya butuh politikus ulung. Kita tidak hanya butuh negarawan yang mumpuni. Tapi kita juga butuh generasi cendekiawan yang bermental mulia. Kita juga butuh generasi politikus yang berhaluan kejujuran. Kita juga butuh negarawan yang berdedikasi. Ciptakan dan tanamkan itu mulai dari hati kita.
Z : Zona kekuasaan kaum kapitalis yang memanfaatkan kekayaan alam secara serampangan itu harus kita batasi. Dan hentikan. Bangsa ini terlalu indah untuk porak-poranda diterjang bencana akibat ulah kotor segelintir manusia. Hentikanlah eksplorasi alam secara berlebihan. Mulailah dari diri kita. Tanamkan budaya cinta terhadap lingkungan. Karena lingkungan yang memberi kita kesempatan untuk tetap berdiri. Karena lingkungan yang menyajikan untuk kita anugerah warna-warna. Dan lingkungan pula yang membalas perlakuan buruk kita dengan mengumbar bencana.
Dari pengalaman-pengalaman masa lalu seharusnya sudah dapat diambil pelajaran (ibrah) yang harus ditelaah untuk dijadikan cermin dan patokan untuk memperoleh kehidupan yang dinamis harmonis yang selama ini masih berada di awang-awang. Orang bijak tak akan mengulangi kegagalan yang sama. Betapa kita masih dapat merasakan sisa-sisa sejarah lampau yang tercermin dalam ranah kesuraman yang berkepanjangan. Sebenarnya akar dari segala permasalahan yang selama ini membelenggu diri bangsa indonesia adalah terlampau renggangnya kebersamaan dan persatuan dalam masyarakat. Seperti kata K.H. Hasyim Asy’ari yang terkenal dengan Pesan Tebuireng.Perkokoh persatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka, kadang-kadang suatu kebathilan mencapai kemenangan disebabkan karena mereka bersatu dan terorganisir. Sebaliknya, kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran tercerai berai dan saling bersengketa.Dengan melakukan pembenahan serta introspeksi dan koreksi di berbagai sendi, dengan sendirinya keharmonisan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara global akan terwujud dengan efektif dan optimal. Semoga krisis ‘alā kulli hāl (majemuk) yang menimpa Indonesia selama ini segera berakhir dan lepas landas dari bumi Nusantara tercinta ini. Insya Allah.Inna Allāha lam yu’ti ahadan bil firqati khairan la min al-akhirīn.(Allah tak akan pernah memberikan keuntungan dan kemuliaan kepada siapapun melalui perpecahan, tidak kepada umat terdahulu tidak pula kepada generasi yang terakhir).
hitam itu cahaya
.: tak ada dariku yang mungkin membuatmu merasa perlu untuk mengenalku. setidaknya, aku punya identitas. identitas itulah yang membuatku merasa tak ada yang berhak melarangku membuktikan eksistensiku :.
Sahabat
- Al-Qifty
- Bang Nug | Abang Kita
- Dede Dim-Dim
- Erna | Banana Smoothie
- Faizal Rahman, S.Ap
- Galih | Campusmate
- Guh | Guru Zaman
- Humor Bendol
- Kenuzi50 | SKSM
- Kertas Corat-Coret
- Liza Fathia
- Nafhania
- Nita | Nitnot Kerenz
- Omiyan
- Pocong Gaul
- Ria | The Story of
- Rien | Ola-Ona
- Rindu | Kebun Hikmah
- Shanty | Blog Cantik









