#indonesiaunite  

dicoret oleh _rabindra pada ,


sekali lagi kami katakan dan nyatakan. sekali lagi kami tegaskan. kami hanya terkejut tapi kami tidak takut. kami adalah tangan-tangan kokoh yang bersitegap dalam satu kepalan. kami adalah jiwa-jiwa tegar yang matang oleh semangat kebangsaan. kami tidak akan terpuruk seperti harapanmu. karena kami bukan pengecut seperti dugaanmu.

kau ledakkan negeri kami. tapi tidak dengan jiwa raga kami. kau rongrong negara kami. tapi tidak dengan semangat juang kami. kau tak akan bisa meremukkan daya merah putih kami. karena kami berani dalam kesucian. karena kami suci dalam keberanian.

lihatlah. garuda di dadaku. tak akan luntur oleh siapapun.

...We will not be stopped to be number one...

_rabindrasahara

melupakan  

dicoret oleh _rabindra pada ,

dan melupakanmu adalah hangatnya detik waktu. mengguyurkan kesangsian kesuraman yang pernah menyandang nama kebahagiaan. itu pernah kita ciptakan. jauh sebelum kukenali keras hati bernama obsesi duniawi.


_Sha. kau tak pernah lagi terlihat di wajah jendela. tempat kau menuntaskan
airmatamu yang kerap tertunda.

kau hanya memandangku. lalu menghilang._

kita hanya sebuah episode kecil tentang lahirnya jatidiri. ingin kuralat keputusan untuk mencintaimu dengan menghapus semua lorong gelap tempat ku terbiasa bercermin diri. aku tak bisa. karena mencintaimu adalah menangisi surat cinta yang kususun berbulanbulan lamanya.

dan kau remas tumpukan katakata. hasil percintaan kita. tanpa peduli sebagian otak dan jiwaku tertampung di sana. aku pergi.

_baiklah. pintu ini memang tak bisa kulalui. kugadaikan semua. diamlah
di samping jendela itu. kau akan tahu kita lahir dari sesuatu yang semestinya
kita mulai hari ini.

usah kau pergi, Des. lahirlah di mataku. karena mata ini adalah
kehidupan yang kau angankan._


{Shades, Kebahagiaan}


_rs

siapa bilang?  

dicoret oleh _rabindra pada ,

siapa bilang hidup itu mudah?
telah begitu lengkap jalinan kerikil menyongsong kedatangan kita. dan kita terjebak dalam selera Tuhan yang begitu mencintai kejutan. lalu kita tenggelam dalam kesadaran masa lalu dan kebutaan masa depan. maka hidup kita tersumbat di antara pilihanpilihan di mana nyawa kita tertampung di sana. tidak ada hitam seperti cemoohan orang. tidak ada putih seperti anjuran orang berbudi. tak ada abuabu seperti serapah pemuja harubiru. karena hidup bukan sekedar pagelaran warnawarna.

siapa bilang hidup itu sulit?
Tuhan tidak pernah meminta harga untuk darah yang dialirkan di tubuh kita. untuk nafas yang selalu memberi kita ruang gerak di hamparan bumi. kita leluasa membumi. kita hanya perlu meluangkan nafas dan menyiramkan darah itu agar hidup kita tidak siasia. berusaha dan berdoa. tidak sulit kan? alangkah mubazirnya hidup kita kalau darah dan nafas itu hanya dipergunakan untuk kebiadaban natural manusia: menunggu.

karena: kemudahan adalah kesulitan yang menyamar menjadi anugerah. kesulitan adalah kemudahan tertinggi yang pernah kita peroleh.

maka: jangan mempersulit sesuatu yang mudah. itu akan membunuh langkahmu. jangan mempermudah sesuatu yang sulit. karena itu akan menyesatkanmu.

kemudahan dan kesulitan: itulah sumber kekuatanmu. gudang pengetahuanmu. tempat orang ditempa menjadi manusia.


_rs

narasi kesunyian  

dicoret oleh _rabindra pada ,

debar firasat yang mengguncang jemari. menghimpit setiap sela udara yang mengerami setiap masalah hingga tercipta gelombang rasa dalam terali harmoni. kita tak akan bisa menentukan peran kita hingga detik menjadi tahunan sesal yang memeras selubung duka di selaksa tautan ilusi manusiawi.


dan. ketika semua berakhir. corak muka seperti apa yang akan kita sodorkan? bahagia, untuk merasa terlepas dari serbuan masalah? sedih, untuk hitam yang bisa saja menumpas segala pretensi kita tentang kesendirian?

Tuhan. warnaku seperti apakah yang mengendap di hadapMu?

_rabindrasahara

bukan rahasia  

dicoret oleh _rabindra pada ,

tak perlu lagi kau cecar kelu bahasa yang membeku di lidahku
karena rahasia itu bukan lagi jemari tempat kesaksianmu terkepal

seperti yang lalu, kau hanya umpankan diam sebagai jawaban atas kepercayaan yang kukaitkan di lekuk kecantikanmu

dan satu hal yang tak kau tahu:
bahwa aku menggenggam selongsong rahasia ketelanjanganmu


_rabindrasahara

larik hujan  

dicoret oleh _rabindra pada

hanya sejauh ini kita mampu berlari
mendekap anganangan untuk kembali memperdaya bayangan sendiri
ketika jeruji malam menumpahkan kesangsian
perjalanan panjang mendadaskan bercak kesunyatan di gerai tumitmu
maka kesempurnaan adalah kerak kecil yang
menodai timpangnya usia kita

dengan apa kita hendak berlari?
sementara selarik hujan tak kuasa lagi menampung jejakjejak kita
terlampau lebam karena daki menghuni perkampungan langkah

ingatkah setiap perjudian kehendak kita?
selalu melibatkan kehangatan
dunia harmoni yang mengigilkan sumpal mulut ndilalah

ya, kita tak pernah mengerti jatidiri
residu mimpi ini mensatiri kesejatian
kita selalu merasa berhak atas hidup sesama
tak sesulit luka yang menjelaga memang
apalagi ketika beranda hati menelurkan prasangka

tapi, bukan dengan itu kita menerima kebodohan kita
hanya dengan kejernihan akal. ya.
dengan itu kita terima kepandiran
meski luka hati terlalu menjajah
bukankah kita ini hanya wadah?



_rabindrasahara

berkibar  

dicoret oleh _rabindra pada ,

entah bagaimana rasanya. mencecar kehidupan dengan pertanyaanpertanyaan sumbar. namun, gelisah itu ada. takut itu wujud. dan gentar itu menebar. dendam harihari yang lama tak lagi pernah kusantuni. berjibaku dengan segenap persistensi diri.


Tuhan. kuatkah aku jika pertemuan yang Kau ciptakan adalah nama lain dari perpisahan? 

_rabindrasahara

semangat  

dicoret oleh _rabindra pada

letupkan api di tanganmu. 

goreskan hasrat di jiwamu. 
bentangkan sayap beranimu. 
lalu terbanglah.

_rabindrasahara

lelap  

dicoret oleh _rabindra pada

tertidur kini aku di sini.
tanpa kilat.
tanpa sejarah.

_rabindrasahara

I-eN-eD-O-eN-E-eS-I-A dalam harapan  

dicoret oleh _rabindra pada , ,

A : Alirkanlah energi muda kita untuk sesuatu yang lebih berguna bagi diri kita, orang lain maupun bangsa. Ketimbang menjadi pengecut yang mengumbar kekerasan. Bangsa ini sudah terlalu letih menerima sanjungan-sanjungan negatif tentang pertunjukan emosi yang dangkal. Bangsa ini sudah terlalu muak ditempati manusia-manusia yang memasrahkan hidupnya pada bulir-bulir narkotika. Bangsa ini sudah terlalu jijik menghidupi manusia yang takluk di bibir botol minuman keras. Bangsa ini butuh tangan kita untuk tetap bernyawa. Tangan yang selalu mengepal kendati jari-jarinya telah musnah. 

B : Bentuk dan kembangkanlah budaya jujur, transparan, dan adil dalam diri kita. Kehidupan bangsa ini di masa depan adalah cerminan budaya kita saat ini. Hentikanlah menuding hidung orang lain sementara kita tak pernah berani menuding hidung kita sendiri di saat kita berbuat suatu kesalahan. Ingat, bangsa ini selalu membutuhkan uluran tangan kita. Sampai kapanpun.

C : Cerita sejarah kelam tentang pertikaian yang sia-sia itu sudah saatnya kita bungkus rapi dan jadikan cerminan sejarah yang patut kita renungkan. Belajarlah hidup membaur dalam perbedaan tanpa ada keinginan untuk saling mengusik. Perbedaan itu hanya soal cita rasa. Tetapi maknanya tetap satu. Yaitu nusantara. Ketika makna nusantara sudah terpahat rapi, cita rasa perbedaan tak lagi menjadi sebuah alasan untuk saling menghakimi. Perbedaan yang justru memperkaya dan membuat kita semakin kuat.

D : Derita itu sudah saatnya kita akhiri. Suarakan pembaharuan. Keadilan. Kejujuran. Dengan cara ksatria. Dengan jalan yang benar. Bukan pengecut yang hanya mampu berlindung di balik tindakan kebodohan berlabel anarkisme. Kepalkan tangan dan teroboslah sekat yang membatasi ruang status. Dan mengalirlah di dalamnya. Kita punya hak untuk itu. Dan jangan pernah berfikir untuk menunda.

E : Etos dan Etika bangsa kita pernah mengundang decak kagum dunia. Kita punya gotong-royong. Kita punya solidaritas. Kita punya semangat kebangsaan. Kita punya kebersamaan. Kita punya kesopanan. Dan kita punya keramahan. Tapi kemanakah semua itu sekarang? Gotong-royong kita musnah ditelan ego lokal. Solidaritas kita hancur dikepung pertikaian. Semangat kebangsaan kita terbenam dicincang perilaku modernitas tanpa batas. Kebersamaan kita amblas diinjak  individualisme. Kesopanan kita remuk dihantam perasaan saling curiga. Keramahan kita terlelap dibekap nafsu untuk saling menguasai. Mari kita munculkan itu kembali dalam diri kita masing-masing.  Siapakah yang  akan merasa bangga sebagai bangsa yang bermartabat selain kita. Mari kita wujudkan itu.


F : Fakta ketertinggalan itu sudah semestinya kita bungkam dan jadikan pelecut untuk melaju dan melesat. Mengapa kita tidak mampu berbuat selama mereka bisa. Syarat untuk maju adalah dengan senantiasa memperbaiki diri sendiri. Mari kita berbuat untuk itu, kawan.

G : Gegap gempita adalah harga bagi sebuah periode bernama pembangunan. Untuk semua. Tak ada kecuali. Kita berperan dalam pembangunan sesuai apa adanya diri kita. Pergunakanlah kesempatan kita berbuat untuk bangsa. Tidaklah elok ketika suara-suara tentang pembangunan membahana, dan kita masih terlelap dalam jurang penghambaan terhadap kebobrokan mental. Tidaklah indah ketika genderang kemajuan bergemuruh sementara kita tetap melemparkan kepercayaan pada lautan kebodohan emosional. Tidaklah luhur ketika gelimang cahaya kesejahteraan terpancar sementara kita begitu asyik menekuni kegelapan.  

H : Hilangkanlah hitam sebagai penanda periode kesuraman kita. Kita hanya tertidur, kawan. Bukan tidur. Jagalah hati kita agar tak lagi tertidur. Salurkan emosi kepada hal-hal yang memberi kontribusi bagi bangsa. Buat apalah kita berjibaku dengan sesama. Karena tidak ada yang akan menang. Yang menang adalah mereka yang mampu menjaga diri dan menjadi pribadi yang santun. Bukan pribadi yang beringas. Yang mendewakan nafsu sebagai cara sekaligus tujuan. Untuk apalah kita saling tikam kalau pada akhirnya hanya akan memunculkan kebencian.

I : Impian kesejahteraan bukanlah sebuah ilusi. Bukan juga fiksi. Dia akan selalu hadir di setiap gerak langkah. Dan kita jualah yang semestinya menerjemahkan impian itu menjadi sesuatu yang bernafas. Menjadi sesuatu yang bernyawa. Nafas dari tekad kita untuk selalu berbuat demi bangsa. Nyawa dari semangat kita untuk selalu berbenah. Hidupkanlah impian itu dengan nafas dan nyawa dari kita. Itu tugas kita, kawan.

J : Jerat kemiskinan dan kebodohan bukanlah sesuatu yang tak bisa dipecahkan, kawan. Dan juga bukan sesuatu yang mudah untuk ditaklukan. Kita butuh sinergi. Kita butuh jalinan. Kita butuh tangan yang saling berjabat. Bangsa ini bukan tidak mampu untuk itu. Bangsa ini hanya membutuhkan kemauan. Kebodohan itu bukan karena benar-benar bodoh. Tetapi karena tidak adanya kesempatan bagi mereka untuk lepas dari kebodohan. Sudah waktunya bagi kita semua untuk bersama-sama bergerak membenahi sektor pendidikan ini. Mari kita angkat mereka-mereka yang kurang beruntung itu. Untuk kita yang beruntung mendapatkan pendidikan yang lebih layak, gunakan kesempatan itu. Jangan sia-siakan itu dengan hanya sekedar menunaikan keberuntungan. Tapi jadilah praktisi-praktisi dan akademisi-akademisi yang mumpuni. Jangan jadikan ilmu pengetahuan hanya sebatas wacana ilmiah. Terapkanlah hal itu demi kemajuan bangsa. Sekali lagi, bangsa ini tidak kekurangan pahlawan-pahlawan ilmu pengetahuan. Bangsa ini hanya kekurangan tekad dan kemauan.

K : Kendati bangsa ini terlanjur masyhur karena praktik korupsi dan kolusi, tapi jangan jadikan hal itu sebagai sebuah kemustahilan untuk merubahnya. Jadilah pribadi yang jujur. Karena korupsi itu diawali dari pribadi-pribadi yang tidak jujur. Dan sekali lagi, semuanya harus dimulai dari diri kita masing-masing. Tanamkan kejujuran dan keadilan di sana. Perlakukan segala hal yang ada sesuai dengan kegunaannya. Karena di sanalah letak keadilan itu. Jangan jadikan posisi kita sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan pribadi atas nama kepentingan umum. Karena koruptor adalah penjahat paling biadab di muka bumi ini. Mereka mampu membunuh jutaan manusia tanpa mereka sadari.

L : Lenyapnya kejujuran adalah imbas dari legalitas pribadi kekuasaan sebagai corong untuk menyedot keuntungan pribadi. Dengan hati nurani, anggapan bahwa betapa nikmatnya sebuah kekuasaan adalah salah. Karena di sana terdapat tanggungjawab sedemikian besar dan berat. Tanggungjawab yang semestinya ditunaikan. Karena jika tidak, sangat pantas jika disebut pengkhianat. Untuk itu, tanamkan jiwa bertanggungjawab kita sebelum memberanikan diri menjadi insan penyuara rakyat. Sungguh tidak bijak rasanya mengajukan lembar-lembar legalitas akademis dan pundi-pundi harta serta wacana untuk menjadi seorang pemimpin. Bangsa tidak butuh pemimpin yang hanya sekedar cerdas secara akademis. Bangsa tak hanya memerlukan pemimpin yang dilimpahi kekayaan materi. Bangsa tidak hanya ingin dinakhodai pemimpin yang punya kemampuan teatrikal saja. Tapi bangsa butuh pemimpin yang juga punya kecerdasan emosi, kepintaran moral, dan kejeniusan praktikal.  

M : Metafora indah selalu menghiasi laman sampul bangsa ini. Namun porak-poranda ketika menginjak perihal keadilan dan kejujuran. Bangsa ini selalu disuguhi ketidakjujuran. Dari segelintir orang-orang besar yang menakhodai laju bangsa. Kita harus merubahnya. Jadilah orang-orang besar yang selalu mengandalkan keadilan. Yang selalu membawa cermin kejujuran. Dan jangan menjadi insan yang terinjak-injak digit mata uang. Karena uang bukanlah kepuasan yang ada ujung-pangkalnya. 

N : Negarawan yang baik selalu berusaha menciptakan sinergi pada akal, hati dan mulutnya. Karena dia selalu menyadari bahwa keputusannya adalah harga yang harus dibayar bagi sebuah kehidupan bernama bangsa. 

O : Orator ulung adalah penggugah semangat kebangsaan. Yang mampu merengkuh segala lini menjadi satu kesatuan ide yang menaungi keberagaman fisik. Bukan orator yang menciptakan masalah baru untuk memecahkan masalah. Kita membutuhkan jiwa-jiwa pemimpin yang tangguh dan pantang menyerah. Karena bangsa ini terlalu kaya oleh keberagaman. Dan selalu rentan dengan perpecahan. Sudahkah kita menemukan jiwa yang handal itu pada diri kita? 

P : Pendidikan semestinya tidak melulu bertujuan bagaimana seseorang mampu menjadi insan yang cerdas dan intelek. Tetapi pendidikan juga adalah upaya untuk menciptakan generasi yang sehat secara mental dan moral. Sehingga akan mampu dan mau saling bergandengan tangan, bukan malah menciptakan sekat antara satu dan yang lainnya sehingga kemudian muncul pola persaingan yang memabukkan dengan mengatasnamakan sebuah esensi pendidikan. Kita tak hanya butuh pendidikan yang menggembar-gemborkan ilmu pengetahuan hanya sebatas pengetahuan. Kita butuh aplikasi. 

Q : Quotasi yang secara nyata diterapkan oleh pemimpin sebuah bangsa tentu menjadi tolak ukur dari perilakunya. Tentu sebuah quotasi yang pragmatis. Dan jika pada kenyataannya para pembesar mengagung-agungkan pernyataan yang menjadi justifikasi atas kekuasaan tanpa batas. Maka yang muncul adalah nafsu untuk memiliki dan menguasai. Dan mempertahankan apa yang telah dikuasai dengan apapun caranya. Harus atau tidaknya sebuah kekuasaan itu dipertahankan, perilaku memimpinlah yang akan menjawabnya. Bangsa ini tidak benar-benar bodoh untuk bisa menilai itu. Kecuali jika kenyataannya banyak yang membodohi diri sendiri. Entah demi apa. Yang pasti ketidakjujuran itu tidak lahir dari hati. 

R : Ranah perpolitikan selalu menuntut persaingan yang ketat. Dan tentu tidak setiap insan politik menghendaki persaingan yang sehat dan berjiwa ksatria. Jika hal itu yang muncul, maka nafsu dan emosi yang kemudian akan berbicara atas nama politik. Politik tidak pernah kejam. Insan-insan politiklah yang membuatnya serasa kejam. Jika insan-insan politik saja memperlakukan ranah politik sekejam itu, produk politik seperti apa yang akan diterima rakyat? Maka semuanya harus kembali kepada N dan O.

S : Sumpah Palapa semestinya mampu menjiwai kehidupan setiap elemen bangsa ini. Juga Sumpah Pemuda. Apakah hanya akan tersimpan rapi di saku-saku sejarah. Tentu sangat menggelitik jika sumpah-sumpah itu selalu diagung-agungkan dan dibangga-banggakan sementara kita tak mampu menjiwainya. Marilah kita bersatu, kawan. Jangan lihat warna kulit. Jangan lihat format bahasa. Jangan lihat itu. Lihatlah merah dan putih. Keberanian dan kesucian. Berani berbuat sesuatu demi kejayaan bangsa. Mensucikan perbuatan dari sesuatu yang sia-sia. Tak ada gunanya perpecahan. Perpecahan tak akan menjadi penyelesaian yang berarti.

T : Teritorial dan budaya bangsa adalah harta yang tak bisa dibayar oleh apapun. Karena itu mencerminkan jatidiri dan kearifan sebuah bangsa. Sudah menjadi kewajiban kita untuk mempertahankannya. Jangan biarkan mereka merampas itu dari kita. Tidak tercabik-cabikkah harga diri kita ketika itu terlepas? Tak perlu kita bersumpah-serapah ketika itu terlepas sementara kita begitu enggan melestarikannya.

U : Undang-undang adalah produk dari kebijaksanaan yang mengatur kita dalam berkehidupan. Sudah semestinya undang-undang itu lahir dari esensi sebuah kebijaksanaan. Yang berani mencecap kebijaksanaan itu. Pembuat undang-undang bukan berarti bebas lepas dari konsekuensi. Bukanlah sebuah kebijaksanaan ketika kita menciptakan sebuah peraturan sementara kita sendiri yang melanggarnya. Marilah kita belajar bertanggungjawab atas apa yang menjadi keputusan kita.

V : Veteran pejuang kemerdekaan adalah bapak bagi bangsa ini. Di manakah kita saat mereka terhempas karena tak ada lagi sesuatu tempat mengurai kisah? Tanpa mereka, bangsa ini tak akan pernah tercatat dalam benak sejarah. Tak akan tertoreh dalam selongsong peta. Tak akan tercantum dalam kitab kehidupan. Tidakkah lagi berharga apa yang mereka perbuat untuk bangsa hingga kesengsaraan menjadi jatidiri mereka? Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apa yang telah kita perbuat untuk bangsa. Kita butuh mereka. Selamanya selama kita masih berdiri di atas satu keyakinan bernama Indonesia. Mari kita bersama perhatikan hidup mereka. Jasa mereka tidak akan pernah terbalaskan. Setidaknya, perhatikan kehidupan mereka.

W : Wabah ganas yang menyerbu bangsa ini sudah tak lagi bisa ditolerir, kawan. Gunakan kekuatan kita untuk menghentikannya. Kekuatan hati dan jiwa. Karena siklus wabah seperti itu hanya mampu dihentikan dengan hati. Tidak ada yang mampu mendustai hati kita. Termasuk kita sendiri. Seseorang yang memiliki hati itu. Karena hati bukanlah kuasa kita. Maka, sentuh semuanya dengan hati.

X : Xenophobia bukan berarti membenci segala sesuatu yang bernada asing dan baru. Marilah kita belajar mengadopsi budaya lain yang bernilai positif bagi kita. Dan jadikan sisi negatif sebagai sebuah pelajaran yang berharga yang akan semakin memperkukuh warna positif kita. Janganlah kita mengumbar kebencian terhadap budaya asing sementara kita tak pernah peduli budaya sendiri.

Y : Yakinkan diri kita bahwa bangsa ini mampu untuk maju dan melaju. Ciptakan generasi yang intelek dan religius dengan pendidikan yang bermartabat. Kita tidak hanya butuh eksakta. Kita tidak hanya butuh sains. Kita tidak hanya butuh politikus ulung. Kita tidak hanya butuh negarawan yang mumpuni. Tapi kita juga butuh generasi cendekiawan yang bermental mulia. Kita juga butuh generasi politikus yang berhaluan kejujuran. Kita juga butuh negarawan yang berdedikasi. Ciptakan dan tanamkan itu mulai dari hati kita.

Z : Zona kekuasaan kaum kapitalis yang memanfaatkan kekayaan alam secara serampangan itu harus kita batasi. Dan hentikan. Bangsa ini terlalu indah untuk porak-poranda diterjang bencana akibat ulah kotor segelintir manusia. Hentikanlah eksplorasi alam secara berlebihan.  Mulailah dari diri kita. Tanamkan budaya cinta terhadap lingkungan. Karena lingkungan yang memberi kita kesempatan untuk tetap berdiri. Karena lingkungan yang menyajikan untuk kita anugerah warna-warna. Dan lingkungan pula yang membalas perlakuan buruk kita dengan mengumbar bencana.

Dari pengalaman-pengalaman masa lalu seharusnya sudah dapat diambil pelajaran (ibrah) yang harus ditelaah untuk dijadikan cermin dan patokan untuk memperoleh kehidupan yang dinamis harmonis yang selama ini masih berada di awang-awang. Orang bijak tak akan mengulangi kegagalan yang sama. Betapa kita masih dapat merasakan sisa-sisa sejarah lampau yang tercermin dalam ranah kesuraman yang berkepanjangan. Sebenarnya akar dari segala permasalahan yang selama ini membelenggu diri bangsa indonesia adalah terlampau renggangnya kebersamaan dan persatuan dalam masyarakat. Seperti kata K.H. Hasyim Asy’ari yang terkenal dengan Pesan Tebuireng.

Perkokoh persatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka, kadang-kadang suatu kebathilan mencapai kemenangan disebabkan karena mereka bersatu dan terorganisir. Sebaliknya, kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran tercerai berai dan saling bersengketa.

Dengan melakukan pembenahan serta introspeksi dan koreksi di berbagai sendi, dengan sendirinya keharmonisan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara global akan terwujud dengan efektif dan optimal. Semoga krisis ‘alā kulli hāl (majemuk) yang menimpa Indonesia selama ini segera berakhir dan lepas landas dari bumi Nusantara tercinta ini. Insya Allah.

Inna Allāha lam yu’ti ahadan bil firqati khairan la min al-akhirīn.
(Allah tak akan pernah memberikan keuntungan dan kemuliaan kepada siapapun melalui perpecahan, tidak kepada umat terdahulu tidak pula kepada generasi yang terakhir).

Mari kita bersatu, kawan! Dengungkan lagi nilai-nilai sumpah pemuda di sanubari kita masing-masing. Jangan biarkan keadaan menjebak kita untuk bersitegang dengan sesama. Nyawa bangsa Indonesia di sini. Di dalam sini. Hati kita masing-masing. Mulailah pembenahan bangsa dari dalam sana, kawan. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menikam. Mari kita menjadi manusia Indonesia yang berjiwa besar. Bertekad luhur.

Mari kita teriakkan: AKU UNTUK INDONESIAKU!


_rabindrasahara