refleksi air mata  

dicoret oleh _rabindra pada

[1]
apakah dunia ini, jenuh?
hingga, untuk menampung nyawa;
manusia harus bersitegang
dengan Izrail

amnesia pelupuk mata ini belum tumbuh
sekedar untuk melupakan nyawa yang terserpihserpih kemudian berkarat dilumat,
keegoisan zaman

kukira dajjal telah menanamkan giginya di jantung waktu,
padahal kutub utara belum siap mencair untuk menyuntikkan penyesalan
mendalam pada manusiamanusia,
yang tak pernah, puas bercengkrama dengan ajal

dengan:
membiarkan wajah bumi dibekap darah

ternyata,
kenyataan menyatakan kenyataan bahwa
ajal tak pernah mampu singgah dengan sungging senyum
atau belum?


[2]
mungkin hujan pagi, tak kuasa mendinginkan benakbenak liar, yang ditikam keberingasan,

pun
manusia yang lahir dari gemulai darah
hanya mampu tergagap ketika berliterliter sperma terkulai menjadi tumpukan sampah
loronglorong rahimrahim yang diobral

keperkasaan malam ternoda jiwajiwa mesum
dan otakotak yang tumpul oleh gelegak birahi
;
menghentakkan rasa malu dengan kebiri hargadiri, dalih seni 
kebebasan ekspresi menjadi kultus firman

maka
kemarau panjang labirin kemanusiaan
dimaknai dengan kelenjar nasib
bagi pemborosan moral

[3]
kebenaran yang muncul dari ketidakwajaran, meski sesuap penyesalan
menjadi noktah peradaban, yang tak menghargai kemanusiaan.

ketiak nasib dipertautkan dengan sanjungpuja,
nyawa manusia menjadi sejumput remah
yang mempertaruhkan beribu leher,
pada belas kasihan bubukbubuk mesiu

[4]
waktu yang mengeratserpih tubuh dengan kebimbangan
tak pernah berburuksangka dengan tak pernah membiarkannya,
dihidupi oleh sisasisa sumsum dari serpihan nyawa
yang kemarin telah lumat..

jadi untuk apa manusia hitlerpinochetmobutu
yang menafkahi tubuhnya dengan darah,

ah, ini bukanlah lelucon


_rabindrasahara

6 respon

Pertamaxx
Walaupun Bendol gak ngerti tentang puisi, tapi ngeliat judulnya aja...kayaknya sedih banget. Terutama yang menyangkut Israel.
Met berkarya mas..

23/1/09 2:07 AM

air mata hanya sebuah tanda.. hatilah yang merasa...
duh.. ngenes .. :(

23/1/09 11:24 AM

hhmmm penuh makna banget mas..saya aja sampai baca berulang kali bacanya mantab

23/1/09 3:10 PM

Jaman memang sudah edan ya Mas? Kayaknya sekarang memang manusia lebih bar-bar dari pada jaman bar-bar..

23/1/09 3:35 PM

@HumorBendol:
Sya jg ga ngerti apa yg sya tulis, Mas.. :)

@Menik:
Iya,makasih duh berkunjung, Mbak..

@Omiyan:
Masa sih, Bang?

@ernalilis:
sepakat, Mbak.. Manusia sdh lupa kemanusiaan mereka..

23/1/09 4:06 PM

memang bila dikatakan bahasa puisi adalah bahasa sentimentil sesorang akans esuatu. makanya kenapa makna didalamnya hanyalah penulisnya yang tahu.

tapi sebuah puisi adalah ekspresi untuk diambil maknanya juga bagi penikmatnya. saya menikmati kata perkatanya mas...

23/1/09 8:25 PM

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungan anda. Silakan tinggalkan pesan dan komentar anda di sini...