[1]
apakah dunia ini, jenuh?
hingga, untuk menampung nyawa;
manusia harus bersitegang
dengan Izrail
amnesia pelupuk mata ini belum tumbuh
sekedar untuk melupakan nyawa yang terserpihserpih kemudian berkarat dilumat,
keegoisan zaman
kukira dajjal telah menanamkan giginya di jantung waktu,
padahal kutub utara belum siap mencair untuk menyuntikkan penyesalan
mendalam pada manusiamanusia,
yang tak pernah, puas bercengkrama dengan ajal
dengan:
membiarkan wajah bumi dibekap darah
ternyata,
kenyataan menyatakan kenyataan bahwa
ajal tak pernah mampu singgah dengan sungging senyum
atau belum?
[2]
mungkin hujan pagi, tak kuasa mendinginkan benakbenak liar, yang ditikam keberingasan,
pun
manusia yang lahir dari gemulai darah
hanya mampu tergagap ketika berliterliter sperma terkulai menjadi tumpukan sampah
loronglorong rahimrahim yang diobral
keperkasaan malam ternoda jiwajiwa mesum
dan otakotak yang tumpul oleh gelegak birahi
;
menghentakkan rasa malu dengan kebiri hargadiri, dalih seni
kebebasan ekspresi menjadi kultus firman
maka
kemarau panjang labirin kemanusiaan
dimaknai dengan kelenjar nasib
bagi pemborosan moral
[3]
kebenaran yang muncul dari ketidakwajaran, meski sesuap penyesalan
menjadi noktah peradaban, yang tak menghargai kemanusiaan.
ketiak nasib dipertautkan dengan sanjungpuja,
nyawa manusia menjadi sejumput remah
yang mempertaruhkan beribu leher,
pada belas kasihan bubukbubuk mesiu
[4]
waktu yang mengeratserpih tubuh dengan kebimbangan
tak pernah berburuksangka dengan tak pernah membiarkannya,
dihidupi oleh sisasisa sumsum dari serpihan nyawa
yang kemarin telah lumat..
jadi untuk apa manusia hitlerpinochetmobutu
yang menafkahi tubuhnya dengan darah,
ah, ini bukanlah lelucon
_rabindrasahara
6 respon
air mata hanya sebuah tanda.. hatilah yang merasa...
duh.. ngenes .. :(
hhmmm penuh makna banget mas..saya aja sampai baca berulang kali bacanya mantab
Jaman memang sudah edan ya Mas? Kayaknya sekarang memang manusia lebih bar-bar dari pada jaman bar-bar..
@HumorBendol:
Sya jg ga ngerti apa yg sya tulis, Mas.. :)
@Menik:
Iya,makasih duh berkunjung, Mbak..
@Omiyan:
Masa sih, Bang?
@ernalilis:
sepakat, Mbak.. Manusia sdh lupa kemanusiaan mereka..
memang bila dikatakan bahasa puisi adalah bahasa sentimentil sesorang akans esuatu. makanya kenapa makna didalamnya hanyalah penulisnya yang tahu.
tapi sebuah puisi adalah ekspresi untuk diambil maknanya juga bagi penikmatnya. saya menikmati kata perkatanya mas...
hitam itu cahaya
.: tak ada dariku yang mungkin membuatmu merasa perlu untuk mengenalku. setidaknya, aku punya identitas. identitas itulah yang membuatku merasa tak ada yang berhak melarangku membuktikan eksistensiku :.
Sahabat
- Al-Qifty
- Bang Nug | Abang Kita
- Dede Dim-Dim
- Erna | Banana Smoothie
- Faizal Rahman, S.Ap
- Galih | Campusmate
- Guh | Guru Zaman
- Humor Bendol
- Kenuzi50 | SKSM
- Kertas Corat-Coret
- Liza Fathia
- Nafhania
- Nita | Nitnot Kerenz
- Omiyan
- Pocong Gaul
- Ria | The Story of
- Rien | Ola-Ona
- Rindu | Kebun Hikmah
- Shanty | Blog Cantik








