jika orang berkata bahwa kebebasan adalah ekspresi kemerdekaan paling surgawi, maka kiranya kita perlu bertanya, kebebasan seperti apakah itu?
- kebebasan untuk menghunus senjata kemudian saling membabat satu sama lain hanya karena permasalahan yang hanya butuh sedikit guna otak untuk kembali berfikir jernih kah?
- kebebasan untuk memutarbalikkan kebenaran dengan memonetisasi dan berlindung di balik ketiak hukum kah? sementara orang lain terjengkang karena ketidakadilan?
- kebebasan untuk mempertontonkan aurat dan mengumbar hawa nafsu atas dalih seni kah?
- kebebasan untuk memanfaatkan suara rakyat hanya untuk membunuh mereka secara perlahan kah?
- kebebasan untuk menjual harga diri bermodal tanda-tangan demi digit rupiah kah?
- kebebasan untuk membunuh nilai mata uang di meja judi, diskotik, klab malam sementara orang lain meregang nyawa di bantaran sungai dan jembatan kah?
- kebebasan untuk berbusa menyuarakan nasionalisme kah? sementara begitu mudahnya identitas bangsa dijamah orang lain?
- kebebasan untuk mengumbar atensi atas adat ketimuran kah? sementara tak ada lagi cerminan ketimuran pada diri?
dan sayangnya itu sedang terjadi hari ini. kemarin. dan masa depan kah? ternyata begitu sulit menemukan orisinalitas bangsa ini. dan begitu mudah menemukan kemunafikan.
menguliti warna diri
carilah di sana kalau kita ingin menemukan sisi gelap kemajemukan. bagaimana kemajemukan tidak lagi menjadi rahmat. bagaimana kemajemukan itu membunuh karakter bangsa. bagaimana kemajemukan itu menelurkan kanibal-kanibal baru yang memakan sesama sembari tertawa-tawa. bagaimana kejantanan itu diukur dari bekas luka dan lenyapnya nyawa sesama. tak ada lagi kesantunan dan kegotongroyongan yang dulu mengundang decak kagum.
carilah di sana kalau kita ingin menyaksikan ketimpangan. bagaimana hukum begitu mudahnya dipecundangi mata uang. bagaimana hukum menjadi permainan paling menyenangkan. bagaimana hukum itu mendapati dirinya dalam kecenderungan untuk memenangkan yang bermodal kendati itu salah. bagaimana hukum itu tak lagi berpijak di bumi rakyat jelata.
carilah di sana kalau kita ingin memanjakan birahi kita. bagaimana aurat dan hawa nafsu menjelma menjadi komoditi paling bergengsi. bagaimana esensi seni diombang-ambingkan dengan pemurtadan atas nama kebebasan berekspresi. bagaimana rasa malu itu menjadi sesuatu yang memalukan. bagaimana harga diri digadaikan demi rating televisi.
carilah di sana kalau kita ingin menjadi saksi pembunuhan karakter demokrasi. bagaimana mereka mengelabui rakyat dengan janji-janji klise tentang kesejahteraan. bagaimana mereka mencoreng wajah demokrasi dengan memperkaya diri. bagaimana mereka menyuarakan pembaharuan yang tak akan pernah mereka penuhi.
carilah di sana kalau kita ingin menemukan pengkhianat rakyat. bagaimana kemunafikan itu menjadi sumber penghidupan. bagaimana kedzaliman menjadi akar pengambilan keputusan. bagaimana tandatangan diperjualbelikan. bagaimana tepuk tangan mulai dipertandingkan. bagaimana materi menjadi sumber kebijakan.
carilah di sana kalau kita ingin membuktikan sebegitu lebarnya kesenjangan sosial. bagaimana mata uang diluluhlantakkan di ranah kemubadziran. bagaimana manusia menjelma menjadi robot pemborosan sementara di ranah yang lain kemelaratan mendadaskan kesempatan hidup sebagian besar populasi.
carilah di sana kalau kita ingin mendengarkan gemuruh nasionalisme semu. bagaimana wawasan kebangsaan hanya membentur dimensi wacana. sementara upaya perampokan aset bangsa dibiarkan merajalela. bagaimana matra nasionalisme merambat turun secara eksponensial.
carilah di sana kalau kita ingin menyaksikan pembumihangusan estetika dan kearifan lokal. bagaimana menyuarakan budaya ketimuran sementara justru hanyut dalam pengadopsian budaya lain yang salah kaprah. bagaimana identitas ketimuran menjadi sesuatu yang menghilangkan harga diri. bagaimana ketimuran hanya menjadi objek kaji-mengkaji tanpa pernah mengilhami.
menuju sesuatu yang baru dan membumi
maka adakah upaya kita untuk merubah sesuatu yang 'duh!' menjadi 'wah!'? karena memang sudah saatnya kita sadar bahwa kita adalah elemen paling solutif untuk permasalahan bangsa ini. kita tak butuh wacana yang digembar-gemborkan tanpa realisasi. sekali lagi, kita tidak hanya hidup di dunia wacana. kita ada di sini. di keberadaan ini.
mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan:
[]
pluralitas memang sebuah tantangan besar untuk republik yang kaya budaya ini. itu sangat menguntungkan dengan asumsi tidak menjadi bumerang tentu saja karena perbedaan memang sesuatu yang sensitif. namun, pada kenyataannya kita selalu mudah terkotak-kotakkan. dikotomi dan parsial selalu menjadi agenda keseharian kita. bukankah akan terasa lebih indah kalau kita sudi sadar diri untuk saling merangkul dan saling mengisi. membiasakan diri hidup dalam perbedaan itu budaya baik, kawan. ketika ditemui setitik persamaan, jabat tangan kita akan semakin erat. dan ketika timbul perbedaan sementara kita terbiasa berjalan di koridor persamaan, itu terasa lebih menakutkan. tidak arif rasanya kalau kita selalu menyodorkan alasan bahwa pertikaian itu adalah upaya untuk menyamakan persepsi.
maka mulailah dari diri pribadi kita. tak perlulah kita mencela seseorang yang berbahasa ngapak ala Banyumas. tak usahlah kita menganggap bahwa setiap orang Sunda itu pelit dan materialistis. perbuatan segelintir orang itu tidak begitu saja mewakili keseluruhan. tidak bijak kalau kita memvonis semua orang Dayak dan Madura itu hobi berkelahi. tidak adil kalau kita menuduh setiap insan ibukota itu kapitalis. tak usahlah kita saling membandingkan untuk status menang atau kalah.
[]
menyaksikan berbagai pemberitaan akhir-akhir ini memang membuat kita merinding. tentang hukum maksudnya. bagaimana akhirnya rakyat mengambil inisiatif langkah hukum menurut cara mereka sendiri karena memang sudah tak ada lagi tempat mereka bersandar menanti keadilan. tentu saja mayoritas menggunakan cara yang melanggar hukum. kita (baca: rakyat) sepertinya memang sudah putus asa. belum ada lagi figur yang dapat dipercaya.
tentu saja. lagi-lagi semua itu harus kita mulai dari sini. dari mental kita masing-masing. tak usahlah kita berupaya membeli hukum sekaya apapun. yang membeli dan yang menjual itu sama-sama dicincang kelak di hari pembalasan. bersikaplah sebagai seorang juara dengan menghargai hukum sebagai landasan dan peta untuk membaca setiap gerak laku kita.
tak usahlah kita memangkas jalan birokrasi untuk mencuri kursi di universitas negeri. tak perlulah kita menyodorkan rupiah sebagai legalitas untuk tetap melaju kendati tanpa helm di jalan raya. tak perlulah kita menyuguhkan kemolekan tubuh kita demi sebuah nilai A. tak usahlah kita repot-repot mentransfer dana agar kita dimenangkan atas kasus hak kepemilikan yang nyata-nyata itu bukanlah milik kita. karena di luar sana, banyak orang yang telak merasakan dampak dari akumulasi ketidakjujuran kita. marilah kita belajar menghargai diri dan jiwa kita. marilah kita berupaya memoles kemanusiaan kita. dengan kejujuran dan sikap bertanggungjawab.
[]
silakan baca nurani kita masing-masing. seberapa banyakkah persentase dari kita yang menganggap bahwa ketelanjangan berdalih seni dan kebebasan berekspresi itu bukan sebuah bentuk lain dari kemerosotan moral? ah, alangkah terharunya kita menyaksikan nilai luhur seni dibanting oleh sebuah bias kebebasan berekspresi. menyedihkan melihat seni hanya menjadi perisai justifikasi atas kebodohan individual. jadi, seni hanya mengendap di ranah popularitas? dan menjadi media untuk mendongkrak rating untuk sebuah banalitas.
tidak bijak rasanya kalau kita selalu menyodorkan hak asasi sebagai justifikasi atas apa-apa yang kita lakukan. tidakkah kita sadar, orang lain pun punya hak asasi. maka, hak asasi manusia itu saling membatasi. tidak ada yang didewakan di sana. lantas kenapa kita mempersalahkan gaya hidup dan pergaulan anak-anak muda kita kalau setiap hari mereka disuguhi tayangan-tayangan yang mengumbar syahwat dengan dalih seni?
lakukanlah apa yang bisa kita lakukan. jika kita seorang insan pertelevisian, ciptakan tayangan yang edukatif. bukan tayangan yang hanya mengajarkan hedonisme, justifikasi seks atas nama cinta, dan cara terbaik membalas dendam. jika kita seorang penulis, terbitkan karya-karya yang bermutu. tidak perlu memasukkan unsur pornografi untuk menjadi best-seller. jika kita seorang blogger, posting-lah sesuatu yang bermanfaat ketimbang menjebolkan kelopak mata pada gambar-video-cerita yang mengundang syahwat. sekali lagi, buktikan kontribusi kita sesuai kapasitas kita.
catatan: jika kapasitas anda hanyalah sebagai seorang sutradara film esek-esek bermodal cekak (dengan hanya kamera ponsel), maka imbalan anda sudah menanti seperti kaki-kaki pada sistem afiliasi. dan itu akan terakumulasi terus-menerus. tak ada bedanya dengan sutradara sejenis kelas kakap bermodal pendengkulan otak. selamat. anda merugi dan anda berhasil berperan aktif pada upaya pemerosotan moral anak bangsa.
[]
musim pemilu menjadi musim di mana harapan baru rakyat menanti di depan. harapan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. sekaligus musim yang menjadi surga para penjilat. yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kandidat idolanya.
musim pemilu menjadi pintu baru untuk kehidupan yang baru. tentu saja rakyat dibuai dengan janji-janji manis. maka, rakyat terbelah menjadi kotak-kotak yang saling menghantam untuk sesuatu yang belum pasti. karena ketika seorang kandidat berhasil melenggang, ingatkah mereka akan janji-janji? ingatkah mereka akan pengorbanan rakyat.
sikap kita semestinya? tak usahlah kita punya fanatisme yang berlebihan. tak usahlah kita baku hantam dengan sesama. selektiflah kita dalam memilih kandidat. dan janganlah kita melepas tanggungjawab dengan tidak memilih salah satu darinya. karena pilihan kitalah yang menentukan nasib bangsa ini. harumkan nama demokrasi dengan bertidak fair dan netral. bukan karena iming-iming kenyataan yang tak ada ujung-ujung rasionalitas. kalau kita adalah salah satu dari kandidat, ingatlah bahwa kita berada di sini karena rakyat. jangan hanya mengingat rakyat ketika kita membutuhkannya. bukankah seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya?
[]
mengkaji tingkah laku penggede bangsa memang kadang begitu menggelikan. mereka yang merampok harta negara untuk rekening pribadi. mereka yang menjual harga diri di lembaran rupiah. mereka yang menistakan diri bermodal tandatangan usang. sekali lagi kita harus bicara adil bahwa tidak semuanya digambarkan seperti itu. tapi kenapa dan ada apa hingga wakil rakyat itu diidentikkan dengan korupsi? hingga muncul parodi bahwa pemilu adalah untuk memilih calon-calon koruptor baru. ada apa?
sudah lenyapkah makna kejujuran? dan di sanalah, peran kita dinanti. berkembanglah menjadi generasi yang mumpuni. lalu mengalirlah di dalamnya dan jangan hanyut. terjunlah ke dalamnya. dan berperanlah sesuai kemampuan kita. rubahlah dari dalam jika kita berada di dalam. rombaklah dari luar jika kita berada di luar. itu semua tanggungjawab kita semua. kita yang masih merasa sebagai bagian terpenting sebuah komunitas bernama bangsa.
[]
kenapa kesenjangan sosial di bangsa ini tidak pernah dijadikan alasan untuk saling menggamit? bukankah akan lebih indah kalau kebersamaan itu ada. tegakah kita menghabiskan jutaan rupiah di meja judi? di klab-klab malam? di diskotik? kuatkah hati kita membelanjakan rupiah kita hanya untuk kemubadziran? sementara di ujung lain, mereka yang melambai-lambaikan nyawa di ujung gang. di sudut perempatan. di keriap gitar kumal. demi bertahan hidup satu hari itu saja. karena tidak ada bedanya hari itu, kemarin, dan besok bagi mereka.
kenapa kita begitu entengnya menukarkan ratusan ribu rupiah dengan selembar tiket ke diskotik, sementara seperti tertanam di saku celana untuk disodorkan kepada mereka yang kelaparan? meski hanya selembar ribuan atau sekeping ratusan yang mungkin bagi kita itu sepele tapi tidak bagi mereka. tidakkah kita merasa berdosa menyaksikan anak-anak di bawah jembatan itu terbunuh masa kanak-kanak mereka hanya demi menyambung hidup? janganlah bersikap apatis dengan menganggap itu sebagai buah kerja keras kita. sadarkah kita, di lembaran-lembaran yang kita 'buang' itu terselip hak-hak mereka.
ah, sudah waktunya kita bergerak, kawan.
[]
terhenyak kita menyaksikan sebegitu banyak aset kita melayang dengan mudahnya. budaya. teritorial. sumber daya alam. sementara di tempat lain kita berliur mengangkasakan nasionalisme. apa yang kita perbuat ketika budaya dan adat istiadat kita dicuri bangsa lain? apa upaya kita untuk mempertahankan wilayah yang dirongrong bangsa lain? apa langkah kita ketika menyaksikan berhektar-hektar hutan musnah dibabat tanpa izin?
sudah saatnya kita menghargai apa yang kita miliki. kenapa kita baru teriak dan mengumbar sumpah serapah setelah semuanya hilang? di manakah kita ketika museum-museum kehilangan pengunjung? di manakah kita ketika ruang-ruang pagelaran budaya mulai mati? di manakah kita ketika tarian dan kesenian daerah tak mampu lagi regenerasi?
jadi, sudah waktunya kita berbangga hati sebagai bagian dari bangsa ini. jangan biarkan budaya hanya menjadi kolong sejarah. jangan biarkan budaya hanya menghuni rak-rak museum. jangan biarkan teritorial kita hanya menjadi ingatan akan sebuah nama. jangan biarkan sumber daya alam kita menjadi wahana untuk membunuh kita.
[]
ada yang hilang dari panggung sejarah kita. adat ketimuran. kita bicara bukan sebagai upaya mengkotak-kotakkan. ini lebih kepada identitas. citarasa. timur identik dengan kesopanan. kesantunan. kebersamaan. keramahan. kegotongroyongan. dan barat dibaca sebagai individualistis dan cenderung berfikir pragmatis. dan perbedaan keduanya hanya berada di ranah konsep. karena bukan tidak mungkin keduanya bersifat substitutif. tidak ada yang benar-benar menyekat keduanya. karena semuanya kembali pada diri masing-masing.
jadi, ini lebih kepada apa yang dulu pernah ada di bangsa ini. di manakah sekarang kesopan-santunan itu? di manakah sekarang kebersamaan itu? di manakah sekarang keramahan dan kegotongroyongan yang dulu begitu kita banggakan?
sudah saatnya kita membangun kembali kebersamaan. kita munculkan kembali jiwa gotongroyong. semuanya demi keutuhan bangsa. janganlah kita mudah tersulut untuk sesuatu yang berpotensi separatis. mari kita kembalikan identitas bangsa yang sesungguhnya. kita boleh mengadopsi budaya asing selama itu demi kebaikan, tetapi tidak dengan menggadaikan budaya asli kita sendiri.
kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?
_rabindrasahara