aku pergi. kiranya belum punah gejolak ini kubahasakan di sela-sela pesonamu yang memusnahkanku; lagi, wanginya tercium di situ. mungkin kau bertanya, sedalam apa kenyataan yang kubaui. seperti dugaanmu, aku ibarat pendendam dunia hasrat yang trenyuh memandang dirinya sendiri atau bahkan sama sekali tak sedang mengibaratkan diri dengan apapun; aku hanya sedang menikmati sesuatu meski diam-diam perasaan kesepian ini sesekali mengguncang bantal di malam-malam di mana rasioku adalah sampah.
kau juga tahu. hanya tertawa dan kebodohanku yang membuatmu tetap bertahan. karena kekuatanku hanyalah canda dan cerita tak berguna. dan itu kudapatkan dari senyum nanarmu yang kadang lebih menyakitkan ketimbang membekap diri dalam lekuklekuk kesunyian. aku tahu itu. maka, lebih menyenangkanku terbunuh dalam tatap pasang matamu. bukan semata aku buta dan bebal. aku hanya ingin berceloteh lebih banyak di sana. merutuki kekonyolanku dulu ketika tegateganya kupasrahkan kepal tangan dan gemuruh dada yang membusung liar di alir hidupmu yang terlalu bisa kutandai. dan ramalkan sudutsudut keputusan di kantong digit kebinasaan.
aku bukan menyesal. karena sesal itu bukan jiwaku. membunuh bosan di selokan tempat kau banting sumpah serapahmu. dan namaku ada di situ. menggapai lentik gemulai tanganmu yang berlumur racun katakata. baru saja menorehkan luka bahasa. mempertegas keperkasaan syair bibirmu -di mana kurasakan sebagai bencana-, dan ketololanku.
dan lalu kenapa kebencian itu masih juga terawat. hingga detik ketika kau sadari racun itulah yang melumpuhkanku.
maafkan, jika celotehku yang berdebu ini sekonyong-konyong mencengangkan, membuatmu musnah dalam ketertegunan. dan mengingatkanmu, aku hanya sebutir mimpi yang masih mau untuk sekedar menengok dengkurmu yang menyesatkan.
dan ingin sekali kukatakan, katakata ini kucuri dari manik matamu: bahwa aku bahagia!
_rabindrasahara







