A : Apa jadinya bangsa ini, kalau generasi mudanya menuhankan kekerasan, minuman keras dan narkotika?
B : Bagaimana nasib bangsa ini kalau penguasanya menilai kekuasaan selalu pada nominal mata uang?
C : Cerita seperti apakah yang menjadi sejarah bangsa ini di masa depan kalau perbedaan selalu menjadi alasan untuk saling menikam?
D : Derita apa lagi yang akan menghampiri bangsa ini kalau rakyat kecil selalu menjadi objek penindasan kaum elit negeri?
E : Etos yang bagaimana lagikah yang menjadi ciri khas bangsa ini hingga dunia mencibir dan menganggap enteng eksistensi bangsa ini?
F : Fakta apa lagikah yang membuat bangsa ini semakin terpuruk dan terjajar jauh ke belakang sementara bangsa lain melesat?
G : Gegap gempita lagikah generasi muda bangsa ini berperan serta dalam pembangunan sementara yang lain terlalu asyik masyuk dalam kebobrokan moral?
H : Hitam seperti apa lagikah yang menandai periode kesuraman bangsa ini setelah konflik dan perpecahan membayangi setiap gerak langkah?
I : Ilusikah jika bangsa ini menginginkan pembaharuan kesejahteraan sementara pada kenyataannya segelintir orang leluasa memamah rupiah di kantong negara?
J : Jerat apa lagikah yang akan membelenggu bangsa ini setelah kemiskinan dan kebodohan yang berkesinambungan?
K : Korupsi dan Kolusi-kah yang tetap membuat bangsa ini begitu tersohor dan bertengger di jajaran puncak statistik hitam dunia?
L : Lenyapkah sudah kejujuran dan keadilan bangsa ini sementara penyuara rakyat di atas sana dengan jumawa menjual tanda tangan demi rupiah?
M : Metafora seperti apa lagikah yang akan mendeskripsikan bangsa ini jika tidak ada hukum yang mampu menjangkau wilayah penguasa?
N : Negarawan manakah yang punya rasa malu dan sigap menunaikan amanah terhadap bangsa setelah berbusa menyuguhkan janji manis masa kampanye?
O : Orator ulung mana lagikah yang sanggup membangunkan bangsa yang sedang larut dalam perpecahan dan ketegangan?
P : Pendidikan seperti apakah yang tidak melemparkan tanggungjawab intelektualitas setelah berjuta-juta rakyat terbenam dalam lumpur buta aksara sementara yang lain terbuai dalam mental kecerdasan untuk membohongi rakyat?
Q : Quotasi mana lagikah yang mengilhami penguasa bangsa ini setelah L’etat cest moi dan God Save The King?
R : Ranah perpolitikan apa lagikah yang membuat semua elemen bangsa ini saling curiga dan baku hantam?
S : Sudah lunturkah rasa kebersamaan dan persaudaraan bangsa ini sementara dulu Gadjah Mada dengan lantang melemparkan sumpah palapa ke seantero negeri?
T : Teritorial dan budaya yang mana lagikah yang siap terlepas dari bangsa ini setelah semuanya begitu menggilai dengan pembodohan berbaju modernisasi tanpa kendali?
U : Undang-undang seperti apa lagikah yang akan dicetuskan para pembesar negeri ini sementara merekapun tak sudi mematuhi undang-undang yang mereka rancang sendiri?
V : Veteran pejuang kemerdekaan yang mana lagikah yang terabaikan sementara bangsa ini begitu membusung dengan berkata 'bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya'?
W : Wabah apalagikah yang akan menjangkiti bangsa ini setelah korupsi, kolusi, nepotisme, gerakan separatis, skandal mesum, dan ketergilagilaan akan kebejatan berbaju seni?
X : Xenophobia apalagi yang menghantui bangsa ini sementara sebegitu banyak manusia bangsa ini mengadopsi budaya seks bebas dan berlindung di balik baju kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia?
Y :Yakinkah kita akan kemajuan bangsa jika segelintir penyambung lidah rakyat di atas sana hanya mampu mengangguk dan berkata 'iya. setuju. ho-oh.' sementara budaya mereka hanyalah 6D (datang, duduk, dengar, diam, dengkur, duit)?
Z : Zamrud khatulistiwa lagikah yang akan tetap menjadi julukan bangsa ini setelah hutan-hutan tak lagi bernyawa dan eksploitasi perut bumi menggila hingga bencana merajalela?
Ini hanyalah sekedar pengingat bagi kita. Bahwa ternyata masih terlalu banyak hal yang harus kita benahi. Bahwa ternyata kitalah yang harus bergerak. Perubahan itu tidak datang dari langit, kawan. Karena kitalah yang menciptakan masa depan. Mulailah dari sini. Dari dalam hati kita masing-masing. Mari kita berpegangan tangan. Tanggalkan segala prasangka tentang perbedaan untuk kebersamaan bangsa. Mari kita buktikan eksistensi bangsa ini. Mari kita tegaskan persistensi bangsa ini. Hidupkan kembali makna sumpah palapa. Demi kita. Demi bangsa. Demi bumi pertiwi.
__Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa__
_rabindrasahara








